Macam-macam Pengembangan Teknologi Hijau di Indonesia!
Teknologi hijau di Indonesia semakin giat dikembangkan dan dimanfaatkan di berbagai sektor. Baik rumah tangga, kedinasan pemerintah dan perusahaan besar, semakin banyak menggunakan teknologi hijau dalam proses produksinya. Mesin-mesin diubah menjadi mesin yang ramah lingkungan yang minim polusi dan hemat energi, limbah diolah dengan baik bahkan dimanfaatkan ulang dalam bentuk yang lain, dan pembangkit-pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan mulai dibangun di perkantoran dan industri. Hal ini juga ditunjang oleh semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mulai menggunakan teknologi hijau di Indonesia.
Teknologi hijau di Indonesia sebenarnya sudah banyak dikembangkan dan mulai memproduksinya secara massal karena tingginya permintaan. Beberapa contoh teknologi hijau di Indonesia yang sering kita temui, seperti panel surya atap, inovasi mobil listrik yang mulai dikomersialisasi, penggunaan biogas dan beberapa rumah dan perkantoran yang menggunakan konsep rooftop garden. Semuanya adalah sebagian bentuk inovasi teknologi hijau di Indonesia yang semakin banyak peminatnya.
Mobil listrik
Bersamaan dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan semakin panjangnya antrean BBM dimana-mana, saat ini banyak orang semakin tertarik beralih ke mobil listrik. Salah satu teknologi hijau di indonesia ini naik daun di waktu yang tepat dan menjadi solusi di tengah himpitan masalah kelangkaan energi bahan bakar fosil. Selain itu, dengan berbahan bakar utama listrik, mobil listrik tidak menghasilkan polusi asap di udara. Menggunakan mobil listrik sama dengan ikut berperan mengurangi gas karbon di udara yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Tidak hanya bebas polusi udara saja, mobil listrik juga menghasilkan suara mesin yang lebih lembut dan pelan dibanding mobil BBM biasa.
Rooftop garden
Rooftop garden mengusung tema keindahan sekaligus mengurangi polusi di udara dengan membangun taman di atap rumah. Taman di atap rumah ini juga dapat mengurangi panas di ruangan di bawahnya, karena energi panas matahari diserap langsung oleh tanah dan dedaunan di atasnya. Rooftop garden memberikan kesejukan untuk hunian atau perkantoran sekaligus tempat baru yang menyenangkan dan menyegarkan. Teknologi hijau satu ini juga dapat menjadi solusi di tengah kondisi lahan hijau yang semakin banyak berkurang.
Biogas
Teknologi hijau di indonesia tidak hanya mengolah dari sumber energi panas saja, tetapi juga memanfaatkan kotoran hasil ekskresi makhluk hidup lalu mengubahnya menjadi energi baru. Kotoran hewan ternak, bahkan kotoran manusia dapat menghasilkan gas yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Teknologi hijau ini disebut biogas. Biogas sebenarnya sudah ada sedari dulu, namun penggunaannya belum meluas karena kurangnya sosialisasi dan belum dipasarkan dengan baik. Biogas memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan menjadi teknologi hijau di Indonesia secara komersial.
Kincir angin
Seperti halnya di negeri Belanda yang memanfaatkan kincir angin untuk menghasilkan energi listrik dari energi gerak, hal ini pun juga dapat diadopsi sebagai teknologi hijau di Indonesia. Di Belanda, kincir angin yang dibangun sangat besar dan banyak, karena Belanda memiliki banyak tanah lapang dan berangin kencang. Kincir angin dapat menjadi teknologi hijau di Indonesia sama seperti panel surya yang menghasilkan listrik. Indonesia memiliki wilayah-wilayah dengan intensitas angin yang tinggi dan tanah yang lapang. Kincir angin dapat dibangun di wilayah potensial tersebut, terus dikembangkan dan mampu menyuplai listrik dari sumber energi baru terbarukan yang tidak menghasilkan polusi.
Panel surya
Panel surya adalah teknologi hijau di Indonesia yang paling banyak dibangun. Saat ini banyak pengembang perumahan memasukkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap sebagai salah satu daya jual yang bernilai untuk dipasarkan. Tidak mengherankan jika semakin banyak perumahan baru yang dilengkapi panel surya.
Manfaat langsung dari keberadaan panel surya ini sudah dirasakan banyak orang, salah satunya dalam menghemat pembelian listrik ke PLN. Panel surya termasuk ke dalam kelompok teknologi hijau di Indonesia karena memanfaatkan energi panas matahari sebagai energi baru terbarukan yang tidak akan habis. Selain itu, proses pembangkitan listriknya tidak menghasilkan polusi, baik asap, suara ataupun bau.
Implementasi PLTS yang kian mudah pun semakin meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakannya. Bahkan pengguna dapat memperoleh layanan pemasangan sejak dari perizinan, seperti halnya Catur Elang Energi (CEE). Ketika memesan panel surya dari CEE, pengguna juga dapat memperoleh garansi hingga 25 tahun. Tidak mengherankan jika panel surya CEE semakin dilirik karena jaminan masa pakainya semakin tinggi. Bagi Anda yang tertarik untuk bertanya lebih banyak tentang panel surya CEE, dapat langsung menghubungi tim marketing CEE untuk informasi selengkapnya. (Pradana)







